Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2018

Veteran Perang Di Asingkan 15 Tahun DiNusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.


Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.


Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Senin, 16 Juli 2018

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jasanya turut dirasakan semua orang Indonesia, tapi tak satu pun dari kita tahu namanya.

Sosok yang satu ini memang tidak banyak diketahui masyarakat luas. Namun jika melihat jasanya, tokoh bernama Winoto Danoeasmoro ini adalah termasuk orang kepercayaan dari Presiden Soekarno. Jasa lelaki kelahiran Purworejo saat menjadi sekretaris pribadi Ir. Soekarno tentu amatlah mendukung pencapaian berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak hanya sebagai sebagai sekertaris Ir. Soekarno, Winoto pun termasuk dalam pemuda yang terlibat membawa dua tokoh penting ke Rengasdengklok. Meski banyak perannya, nama Winoto tak banyak disorot sebab semasa hidup lelaki ini cukup jarang tampil di depan media dan jauh dari publikasi.

Peran Penting Winoto Di Masa Sebelum Kemerdekaan
Di antara peran penting Winoto adalah menjadi sekretaris pribadi Presiden Soekarno. Pria kelahiran 19 Oktober 1908 ini juga merupakan bagian dari tokoh pemuda yang turut serta dalam peristiwa Rengasdengklok. Perlu diketahui bahwa peristiwa penculikan yang dilakukan kaum muda terhadap Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk kemudian meminta percepatan proklamasi kemerdekaan tanah air. Karena peristiwa Rengasdengklok, pelaksanaan proklamasi dilakukan tanpa campur tangan organisasi buatan Jepang.

Dari Mulai Kepala Rumah Tangga Istana Negara Hingga DPR
Menurut salah seorang kerabat yang diketahui bernama Muhadi, Winoto sempat menjabat beberapa posisi penting. Di antaranya asisten pribadi Presiden Soekarno, kepala rumah tangga istana negara, hingga menjadi anggota DPR. Namun dari semua jabatan itu, yang paling membuat Winoto bangga adalah menjadi asisten sekaligus sekertaris pribadi Presiden Soekarno. Diceritakan saat menjadi asisten sang presiden, Winoto selalu diajak ke banyak tempat baik untuk tugas negara maupun di luar itu. Saat ke luar negeri pun, Winoto tak ketinggalan di bawa sang proklamator. Dan Presiden Soekarno yang gemar melakukan meditasi kerap mengajak Winoto bersamanya. Winoto pun dipercaya untuk mengasuh putra dan putri Bung Karno kala dirinya dan sang istri harus bertugas di luar rumah.

Pasca Pensiun Membangun Jalan Hingga Masjid
Setelah pensiun, laki-laki yang akrab disapa Mbah Winoto itu kembali ke kampung halamannya. Namun jangan dikira dirinya akan leha-leha menikmati masa tua, sebaliknya Winoto seakan menebus apa yang tak bisa dilakukannya semasa muda karena dirinya merantau di luar daerah. Di kampung halamannya, Mbah Winoto mulai membantu pembuatan jalan desa. Tak hanya itu, ia pun membangun masjid dengan dana dari kantong pribadinya sendiri.

Menolak Di Makamkan Di Taman Makam Pahlawan
Sejak di usia muda, Winoto memang dikenal sebagai pribadi yang amat sederhana. Dirinya tidak suka terhadap publikasi, dan yang lebih unik lelaki yang wafat pada 11 Juni 1985 ini berpesan bahwa tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Alasannya terbilang nyeleneh yaitu tidak ingin dimakamkan bersama-sama bintang film. Memang tahun-tahun itu, banyak bintang film yang dimakamkan di taman makam pahlawan. Maka asisten pribadi Bung Karno tersebut ketika meninggal dunia dimakamkan di pemakaman Desa Banyuurip.

Dan makam Mbah Winoto bergabung dengan banyak nisan lainnya, cukup sulit ditemukan. Makam sederhana Mbah Winoto dengan nisan berwarna putih dengan lumut di beberapa bagian, nampak amat sederhana. Tulisan penanda makam yang bertuliskan “H Winoto Danu Asmoro” pun terlihat hanya samar-samar sebab mulai pudar.

Begitulah kisah perjalanan hidup dan jasa-jasa yang telah dilakukan Winoto. Cukup luar biasa bahkan sedikit banyak berpengaruh bagi bangsa lantaran beliau adalah sang asisten pribadi Putra Sang Fajar. Sayangnya, nama sosok sederhana itu kini seakan hilang ditelan jaman. Sepudar tulisan namanya di papan nisan yang mulai tak diperhatikan lagi.(Firmansyah Mawero)

Sabtu, 30 Juni 2018

Atlantis Di Indonesia

Isu kejatidirian bangsa Indonesia, bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia, semacam Atlantis, dalam pengamatan saya mengemuka dalam tiga tahun terakhir ini. Ini seiring dengan terbitnya terjemahan dua buku kontroversial, "Atlantis itu Indonesia" (Arysio Santos, 2009) dan "Eden in the East" (Stephen Oppenheimer, 2010). Saya berandai-berandai, bila kedua buku itu tidak diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, mungkin isu kejatidirian bangsa tak mengemuka serius sekarang, meskipun Soekarno sudah meneriakkan soal jati diri bangsa lebih dari 50 tahun yang lalu.

Buku Atlantis itu kemudian melahirkan banyak buku lain tulisan orang-orang Indonesia yang umumnya mendukung bahwa Atlantis itu Indonesia. Beberapa kalangan pejabat atau tokoh masyarakat pun ramai-ramai mendukung tesis yang digulirkan Santos ini entah apa tujuannya, mungkin berusaha mengangkat jatidiri bangsa yang mungkin dalam pandangan mereka tengah merosot. Saya dengar sendiri itu diucapkan dari seorang tokoh politik terkenal ketika saya diundang membedah buku Atlantis oleh penerbitnya. Sayangnya, hampir tak ada buku-buku ikutan itu ditulis dengan riset mendalam, hanyalah memanfaatkan isu.

Lalu tesis bahwa Indonesia pusat peradaban dunia ini kemudian bergulir terus dan menjadi seperti bola salju, semakin bergulir menjadi besar. Dibentuklah lembaga-lembaga masyarakat atau komunitas-komunitas penghayat bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia atau Indonesia adalah Atlantis. Lalu isu bahwa Indonesia "negeri 1000 piramida" pun mencuat. Beberapa gunung atau bukit kerucut mulai dicurigai sebagai piramida yang jauh lebih tua dari Mesir, beberapa bukit itu disurvei, digali, dibongkar.

Terjadilah perdebatan di antara kalangan ilmuwan Indonesia juga di antara masyarakat yang pro dan kontra atas tesis ini. Sukuh, Cetho, Panataran, Gunung Padang, Gunung Lalakon, Gunung Sadahurip tiba-tiba naik ke permukaan, padahal sebelumnya, sebelum lima tahun lalu tak ada yang meributkannya, tenggelam di bawah permukaan.

Belakangan saya juga mengamati, muncul isu bahwa sejarah Indonesia yang kita kenal selama ini, yang pernah kita pelajari di sekolah dasar-menengah, yang diajarkan kepada para mahasiswa sejarah, dan yang telah menghasilkan para sejarawan besar Indonesia seperti Nugroho Notosusanto, Sartono Kartodirdjo, juga para ahli arkeologi besar Indonesia seperti R Soekmono, RP Soejono adalah sejarah dan arkeologi yang palsu, sejarah dan arkeologi buatan Belanda, penjajah. Semua sejarah dan arkeologi yang beredar itu adalah sejarah yang bohong besar yang ditujukan agar Indonesia tak punya jati diri.

Isu ini mengatakan sejarah yang kita kenal sekarang ini adalah hasil perbuatan konspirasi Belanda atau negara-negara Barat lainnya untuk mengecilkan Indonesia. Maka isu ini mau tak mau menyulut 'peperangan' antara para sejarawan dan arkeolog dengan para penganut teori konspirasi...

Para penganut teori bahwa sejarah Indonesia itu palsu atau bohong besar menggunakan tesis dari penulis Swedia Juri Lina, yang pada tahun 2004 menulis buku kontroversial "Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry". Dalam bukunya ini, Juri Lina berpendapat bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri :
1. Kaburkan sejarahnya
2. Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan kebenarannya
3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Menurut kalangan penganut teori konspirasi, bahwa sejarah Indonesia itu adalah buatan Belanda, buatan Freemasonry, buatan Knights of Templar, buatan Illuminati - kalangan ini juga diilhami oleh novel kontroversial yang mengaduk-mengaduk fakta dan fiksi Dan Brown, "the Davinci Code" atau "the Lost Symbol" yang menggambarkan bahwa banyaknya konspirasi itu bekerja, untuk meredam tesis Juri Lina tersebut.

Bahwa leluhur Indonesia itu berkebudayaan sangat tinggi, bahkan Indonesia itu pusat kebudayaan dunia, adalah usaha-usaha untuk meredam tesis tersebut

Riuh sekali dalam beberapa tahun belakangan ini atas semua isu tersebut, menyambar perdebatan atau lebih tepatnya "peperangan" di antara para ilmuwan, kelompok-kelompok masyarakat yang pro dan kontra.

Di mana kita sebenarnya berdiri? Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Mungkin tidak mudah untuk menjawabnya. Kita lihat saja. Saya punya pendapat, Anda pun punya pendapat. Milikilah analisis dan argumen yang kuat, jangan sekadar ikut arus.

Jumat, 29 Juni 2018

BOROBUDUR : Candi Budha Terbesar Di Dunia

Diseluruh dunia tersebar banyak candi, yang menyimpan berjuta-juta cerita sejarah. Namun dari sekian candi itu, ada yang tersohor lantaran, bentuknya yang digadang-gadang memiliki ukuran paling besar, termasuk diantaranya candi di Indonesia.

1. Candi Baalbek
Baalbek sering disebut juga Heliopolis, yaitu sebuah situs arkeologi yang spektakuler, ymdan berlokasi di timur Lebanon. Dari abad 1 SM, orang Romawi membangun 3 candi, seperti Jupiter, Bacchus dan Venus.
Candi diciptakan untuk menjadi yang terbesar dikekaisaran Romawi.
Candi Bacchus yang terbesar dibangun pada 150 Masehi. Candi ini mempunyai panjang 69 meter, dan lebar 36 meter.
Didindingnya terdapat 42 pilar, dan tingginya mencapai 62 kaki.

2. Candi Kristus Sang Juru Selamat
Salah satu bangunan paling mengesankan dan kontroversial, di Moscow ini, menyimpan sejarah singkat singkat tapi bergejolak. Pada awalnya setelah kekalahan Napoleon, candi ini direncanakan berdiri. Namun pembangunan tidak juga dimulai sampai 1839. Pada 1931, rancang bangunnya hancur berkeping-keping, kala masa pemerintahan Stalin. Pada 1990, Gereja Ortodoks Rusia meminta ijin untuk membangun kembali candi, yang disebut katedral ini. Pada 2000 bangunan kembali berdiri dengan tinggi 105 meter (344 kaki). Digadang-gadang menjadi gereja Ortodoks tertinggi didunia.

3. Candi Saint Sava
Candi Saint Sava terletak di Belgrade, juga merupakan salah satu gereja Ortodoks terbesar didunia. Gereja dibangun didedikasikan untuk pendiri gereja Ortodoks Serbia. Pembangunan gereja dimulai pada 1985 dan selesai 2004. Namun dekorasi internal belum rampung. Dalam bahasa inggris biasa disebut Katedral karena ukurannya. Di Serbia bangunan disebut Harm (kuil). Tinggi 91 meter (299 kaki), dengan lebar 81 meter (266 kaki). Salibnya berlapis emas, tingginya 12 meter (39 kaki), luas permukaannya 3500 meter persegi. 

4. Tikal (Candi IV)
Tikal berisi 6 piramida besar, yang terbesar adalah Candi ke-IV, dengan tinggi 72 meter (250 meter). Candi IV adalah candi terbesar, yang dibangun diwilayah Maya, melampaui Piramida Matahari di Teotihuacan. 

5. Jetavanaramaya
Candi ini terletak di kota Arunadhapura, Srilangka. Jetavanaramaya adalah stupa terbesar, jika diukur berdasarkan volumenya. Candi ini dibangun oleh Raja Mahasena di abad ke-3, yang pembangunanya memakan waktu selama selama 15 tahun. Butuh 93.300.000 batu bata panggang yang digunakan. Tingginya 120 meter (400 kaki). Jetavanaramaya adalah candi tertinggi ke tiga didunia setelah Piramida Giza. Diameter kubah itu sendiri sekitar 92 meter (312 kaki).

6. Sri Ranganthaswamy
Ranganthaswamy yang berlokasi di di Srirangam, adalah kuil yang disambangi oleh jutaan pengunjung dan peziarah setiap tahun. Luasnya 105 acre, tingginya 74 meter (240 kaki). Candi ini pembangunannya didedikasikan untuk Tuhan Ranganatha (Dewa Wisnu). Kuil Sri Ranganthaswamy adalah salah satu kuil terbesar didunia.

7. Candi Akhsardham
Candi di India ini mempunya tingi 43 meter (141 kaki), dan lebar 96 meter (316 kaki) dan 110 meter (370 kaki). Dihiasi dengan ukiran flora fauna, penari, musisi dan dewa. Candi ini dibangun menggunakan pasir merah muda dan marmer dari Carrara, Itali. Sama sekali tidak memakai baja dan beton.

8. Borobudur
Candi ini pernah masuk 7 keajaiban dunia. Borobudur adalah candi Budha terbesar di dunia. Candi ini dibangun pada abad ke- 8 dan ke-9, oleh Wangsa Syailendra. Ada sekitar 2 juta blok batu yang dikumpulkan untuk membangunnya. Borobudur dibagi menjadi 3 bagian, yaitu dasar, tubuh dan atas. Bagian dasar memiliki ukuran 123x123 meter (403,5x403,5 kaki), dengan tinggi dinding 4 meter (15 kaki). Total luas permukaan sekitar 2500 meter persegi. Bagian tubuh terdiri atas 5 platform persegi, masing-masing punya tingkat berbeda. Bagian atas adalah Stupa monumental, dengan kubah utama terletak dipusat. Kubah ini memiliki tinggi 35 meter (115 kaki) dari permukaan tanah.

9. Karnak (Great hypostyle Hall)
Karnak adalah komplek candi kuno terbesar didunia, dan merupakan gabungan dari banyak generasi pembangun di Mesir. Area aulanya mencapai 5000 meter persegi (50.000 kaki). Ada 134 kolam besar, disusun dalam 16 baris, dengan atap yang sekarang sudah hancur. Dan tingginya 24 meter (80 kaki). 

10. Candi Angkor Wat
Angkor Wat adalah komplek candi yang luas, yang berlokasi di Kamboja. Kawasannya menampilakan sisa-sisa beberapa ibukota kekaisaran Khmer, dari abad ke-9 sampai ke-15. Kuil Angkot Wat bisa disaksikan dari seluruh kota. Bagian luar Angkot Wat memiliki ukuran 187 x 215 meter (614 x 705 kaki). Pada tingkat kedua kawasan iti memiliki ukuran 400 x 115 meter (328 x 377 kaki). Menara diatas memiliki tinggi 65 meter (215 kaki) diatas tanah.

Itulah 10 Candi terbesar di dunia. Jangan kita pernah lupa, bahwa Bangsa tercinta, begitu banyak kekayaan yang telah diwariskan para Leluhur Bangsa, yang sudah seyogyanya, kita sebagai generasi penerus, bisa turut serta untuk selalu melestarikannya.